PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
”Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu” (Makmun, 2001: 157). Keberhasilan dalam proses belajar biasa dikenal dengan istilah prestasi belajar. Menurut Phalestie (2007) ”Prestasi merupakan tingkat keberhasilan yang dicapai seseorang yang dapat diukur” (www.rumahbelajarpsikologi.com). Prestasi belajar siswa diperoleh melalui penilaian guru terhadap hasil tes mata pelajaran yang disebut raport. Menurut Syah (2003: 219) “ada beberapa alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa, yaitu norma skala 0 sampai 10, atau 0 sampai 100”. Angka terendah yang menyatakan kelulusan belajar (passing grade) dalam penilaian teori mastery learning adalah 6 pada skala 0-10 atau 60 pada skala 0-100.
Prestasi belajar yang diperoleh siswa tentunya tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi siswa adalah tingkat intelegensi (IQ). IQ memiliki korelasi sangat signifikan dengan prestasi belajar. Barret dan Depinet (dalam Sunawan, 2003: 16) menjelaskan bahwa ’anak yang lebih tinggi skor inteligensinya mendapatkan nilai akademis yang lebih tinggi, lebih menikmati sekolah, lebih mampu mengikuti pelajaran, dan dalam kehidupan selanjutnya cenderung mendapatkan keberhasilan’. Oleh karena itu siswa ber-IQ tinggi seharusnya mempunyai prestasi yang tinggi sesuai dengan potensinya.
Pada kenyataannya tidak semua siswa yang memiliki IQ tinggi memperoleh prestasi yang tinggi pula. Hal ini biasa dikenal dengan istilah underachievement. ’Underachievement itu sendiri terjadi jika ada ketidaksesuaian antara prestasi sekolah anak dan indeks potensi sebagaimana nyata dari tes intelegensi, kreativitas, atau dari data observasi, di mana tingkat prestasi sekolah lebih rendah daripada potensinya’ (Davis dan Rimm dalam Munandar, 2004: 239). Underachiever banyak dialami oleh siswa berbakat intelektual yang notabene memiliki tingkat IQ di atas 120 (Hawadi, 2004: 54). Berdasarkan penelitian yang dilakukan pihak Depdikbud pada tahun 1994 dalam Hawadi (2004: 13) menunjukan bahwa ’sepertiga peserta didik yang digolongkan sebagai siswa berbakat mengalami prestasi kurang’.
Berdasarkan pengalaman peneliti selama Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) fenomena underachiever juga terjadi di SMA Negeri 5 Semarang. Informasi ini diperoleh melalui wawancara dengan siswa, konselor, pengamatan peneliti selama PPL dan dari dokumentasi (tes IQ dan raport siswa). Berdasarkan tes psikologi pada siswa kelas X tahun ajaran 2007/2008 diperoleh hasil dari 374 siswa ternyata 31,9% tergolong underachiever. Rincian dari hasil analisis tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: kelas X-1 (32%), X-2 (47,6%), X-3 (22%), X-4 (13,6%), X-5 (22,7%), X-6 (33,3%), X-7 (9,3%), X-8 (52,8%), dan X-9 (52,8%).
Pengkategorian siswa underachiever dilakukan dengan cara membandingkan prestasi belajar dengan IQ. Jika prestasi berada di bawah batas minimal prestasi yang seharusnya diperoleh dengan tingkatan IQ tertentu, maka siswa tersebut digolongkan underachiever. Batasan yang digunakan peneliti yaitu: IQ 90-109 (rata-rata), maka nilai minimal yang harus diperoleh yaitu 6, IQ 110-119 (di atas rata-rata) nilai minimal 7, IQ 120-129 (cerdas) nilai minimal 8, diatas 140 (jenius) nilai minimal 9.
Munculnya siswa underachiever ternyata tidak lepas dari beberapa faktor penyebab. Seperti yang diungkapkan oleh Hawadi (2004: 70) bahwa ’munculnya underachiever biasanya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu sekolah, rumah, budaya dan pribadi’. Hal ini diperkuat dengan pendapat Munandar (2002: 343) bahwa fenomena underachievement dapat dipelajari baik di rumah maupun di sekolah atau di dalam masyarakat.
Adanya fenomena underachiever sangat mengundang perhatian berbagai pihak untuk segera mengatasinya, khususnya yang bergerak di bidang pendidikan. Jika hal ini dibiarkan maka negara akan mengalami kerugian yang besar. Anak berbakat yang seharusnya menjadi generasi unggul penerus bangsa justru akan menjadi beban negara, karena mereka tumbuh menjadi manusia yang kurang produktif. Dengan demikian kualitas sumber daya manusia Indonesia justru akan semakin menurun dan tertinggal dibandingkan negara lainya. Akan tetapi jika permasalahan underachiever mendapat penanganan yang serius tidak dapat dipungkiri kualitas sumber daya manusia akan semakin meningkat, sehingga bangsa Indonesia akan tumbuh menjadi bangsa yang maju.
Melihat fenomena tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti faktor-faktor determinan penyebab underachiever. Alasannya yaitu dengan mengenal faktor-faktor determinan tersebut nantinya dapat membantu memahami dinamika siswa underachiever. Pemahaman mendalam mengenai faktor penyebab diharapkan dapat menjadi bekal guna merumuskan upaya penanganan yang efektif. Dikatakan efektif karena sebelum merencanakan bantuan terlebih dahulu mengenal pihak yang akan dibantu dengan karakteristik tertentu sehingga tepat sasaran. Upaya bantuan tersebut juga disesuaikan dengan penyebab permasalahannya. Oleh karena itu dalam penelitian ini bermaksud mengetahui apakah yang menjadi faktor-faktor determinan penyebab underachiever.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diajukan yaitu ”Apakah yang menjadi faktor-faktor determinan penyebab underachiever pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Semarang tahun ajaran 2007/2008?”
1.3 Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti yaitu ”Mengetahui faktor-faktor determinan penyebab underachiever pada siswa kelas X SMA Negeri 5 Semarang tahun ajaran 2007/2008”.
1.4 Manfaat Penelitian
Dari tujuan penelitian yang ingin dicapai oleh peneliti , maka dapat diambil manfaat sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat secara Teoritis
Menambah khasanah pengetahuan bimbingan dan konseling khususnya tentang faktor-faktor determinan penyebab siswa underachiever.
1.4.2 Manfaat secara Praktis
1.4.2.1 Bagi Konselor
Memberikan masukan bagi konselor mengenai faktor-faktor determinan penyebab siswa underachiever, yang nantinya dapat dijadikan referensi dalam mengupayakan bantuan efektif bagi siswa underachiever bersama-sama staf sekolah yang lain.
1.4.2.2 Bagi Siswa
Melalui hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan upaya pencegahan agar siswa tidak mengalami underachiever. Sedangkan bagi siswa yang mengalami underachiever mendapat penanganan yang sesuai dengan faktor penyebabnya.
1.4.2.3 Bagi Orang Tua
Berdasarkan hasil penelitian ini orang tua dapat lebih memahami anaknya agar terhindar dari underachiever. Selain itu orang tua dapat dilibatkan dalam penanganan masalah underachiever bersama pihak sekolah.TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab ini dibahas mengenai penelitian terdahulu mengenai underachiever dan faktor-faktor determinan penyebab underachiever; underachiever; dan faktor-faktor determinan penyebab underachiever. Tinjauan teori tersebut nantinya dijadikan acuan bagi peneliti untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian.
2.1 Penelitian Terdahulu mengenai Underachiever dan Faktor-faktor Determinan Penyebab Underachiever
2.1.1 Penelitian mengenai Underachiever
Adanya fenomena underachiever di Indonesia dapat diketahui berdasarkan penelitian berikut ini:
(1) Berdasarkan penelitian Yaumil Achir tahun 1990 dalam Hawadi (2004: 69) ditemukan bahwa dari 199 anak berbakat yang terjaring, 77 siswa (38,7 %) tergolong underachiever.
(2) Menurut Sulaiman (2007: 5) berdasarkan angka-angka statistik menunjukan bahwa sekitar 30% siswa yang tidak dapat menyelesaikan studinya di tingkat SMA memiliki tingkat kecerdasan lebih dari 130. Studi lain juga melaporkan bahwa banyak anak yang dianggap superior termasuk ke dalam kelompok yang lambat studinya pada waktu tertentu.
2.1.2 Penelitian mengenai Faktor-faktor Deteminan Penyebab Underachiever
Penelitian mengenai faktor-faktor determinan penyebab underachiever diantaranya:
(1) Penelitian Yaumil Achir tahun 1990 menunjukan adanya perbedaan komitmen terhadap tugas antara anak berbakat yang berprestasi dan anak berbakat yang berprestasi kurang (Hawadi, 2004: 71). Siswa underachiever cenderung perfect, sehingga mudah kecewa dan putus asa saat melakukan kesalahan. Akibatnya tugas sekolah tidak bisa diselesaikan secara tepat waktu.
(2) Penelitian Sunawan (2003) dan Nugroho (2006) menunjukan adanya korelasi positif antara manajemen diri dalam belajar dengan prestasi belajar. Jika siswa berbakat tidak memiliki manajemen diri dalam belajar yang baik, maka ada kecenderungan menyebabkan siswa tersebut menjadi underachiever.
(3) Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak yang sukses di sekolahnya juga menunjukan bahwa ”peran orang tua sangatlah menentukan keberhasilan mereka” (Gustian, 2004: 36).
(4) Penelitian Yaumil Achir tahun 1990 dalam Hawadi (2004: 154) menunjukan bukti bahwa orang tua yang memberikan perhatian serius terhadap perilaku anak berbakat, terutama yang terkait dengan disiplin belajar, ketekunan, keuletan serta memberikan kebebasan terlalu longgar cenderung menyebabkan anak berbakat menjadi underachiever.
(5) Hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli-ahli psikologi menunjukan bahwa harapan guru terhadap kemampuan anak sangat berpengaruh pada penilaian anak terhadap kemampuan yang dimiliki (Gustian, 2004: 35).
2.2 Underachiever
Siswa dikategorikan undeachiever jika menunjukan prestasi belajar yang tidak sesuai dengan kemampuan intelektualnya.
2.2.1 Pengertian Underachiever
Menurut Davis dan Rimm dalam Munandar (2004: 23 dijelaskan bahwa yang dimaksud underachievement atau berprestasi di bawah kemampuan adalah ’jika ada ketidaksesuaian antara prestasi sekolah dan indeks kemampuannya sebagaimana nyata dari tes intelegensi, prestasi atau kreativitas, atau dari data observasi, di mana prestasi sekolah nyata lebih rendah daripada tingkat kemampuan’.
Selain itu Semiawan (1997: 209) menyebutkan”underachievement adalah kinerja yang secara signifikan berada di bawah potensinya”.
Makmun (2001: 274) juga mengungkapkan bahwa yang dimaksud ”underachiever adalah mereka yang prestasinya ternyata lebih rendah dari apa yang diperkirakan berdasar hasil tes kemampuan belajarnya”.
Merujuk dari beberapa pendapat ahli mengenai underachiever, maka peneliti menyimpulkan bahwa yang dimaksud underachiever adalah siswa yang memperoleh prestasi di bawah standar nilai yang seharusnya dapat diperoleh berdasarkan tingkat IQ tertentu. Sebagai contoh siswa yang mempunyai tingkat IQ 120, ternyata nilai yang diperoleh hanya 6. Siswa tersebut dikategorikan underachiever karena prestasi belajarnya di bawah standar nilai.
2.2.2 Kriteria Underachiever
Underachiver banyak dialami oleh siswa berbakat akademik. Mereka menunjukan prestasi yang tidak sesuai dengan tingkat (IQ) yang sebenarnya.
Pengklasifikasian IQ dalam penelitian ini berdasarkan pada tes intelegensi ”Wechsler Intelligence Scale for Children” yang sering dikenal tes intelegensi WISC. Tes intelegensi ini merupakan perkembangan dari tes integensi ”Wechsler Bellevue Intelligence Scale yang diciptakan David Wechsler pada tahun 1939. Distribusi IQ yang gunakan dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1
Distribusi IQ
| IQ | KLASIFIKASI |
| > 130 | Sangat Superior |
| 120 – 129 | Superior |
| 110 – 119 | Rata-rata Tinggi |
| 90 – 109 | Rata-rata |
| 80 – 89 | Rata-rata Rendah |
| 70 – 79 | Batas Lemah Mental |
| ≤ 69 | Lemah Mental |
Sumber: Walgito, 1992: 152
Berdasarkan penilaian sistem belajar tuntas, maka siswa dikatakan lulus jika memperoleh nilai 6 pada skala 0-10 atau 60 pada skala 0-100. Siswa berbakat akademik seharusnya tidak cukup hanya memperoleh nilai minimal kelulusan. Mereka hendaknya mampu berprestasi sesuai dengan tingkat IQ yang tinggi. Peneliti membandingkan prestasi siswa dengan hasil tes IQ untuk mengidentifikasi underachiever. Batasan yang digunakan peneliti terangkum pada tabel 2.2 berikut ini:
Tabel 2.2
Pedoman Pengkategorian Underachiever
| NO | IQ | KLASIFIKASI |
PRESTASI MINIMAL
|
| 1 | > 130 | Sangat Superior | 9 |
| 2 | 120 – 129 | Superior | 8 |
| 3 | 110 – 119 | Rata-rata Tinggi | 7 |
| 4 | 90 – 109 | Rata-rata | 6 |
| 5 | 80 – 89 | Rata-rata Rendah |
|
| 6 | 70 – 79 | Batas Lemah Mental |
|
| 7 | ≤ 69 | Lemah Mental |
|
Seseorang yang mengalami underachievement pada umumnya menunjukan karakteristik yang berbeda dengan lainnya. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai karakteristik underachiever.
Menurut Clark (1992: 471) ada beberapa karakeristik yang ditunjukan siswa underachiever, yaitu sebagai berikut:
(1) Menunjukan prestasi yang berlawanan dengan harapan atau potensi yang dimilikinya.
(2) Merasa tidak senang dengan sekolah atau gurunya dan cenderung bergabung dengan teman yang juga memiliki sikap negatif terhadap sekolah.
(3) Kurang termotivasi untuk belajar, tidak mengerjakan tugas, sering mengantuk ketika belajar dan tidak tuntas dalam mengerjakan tugas.
(4) Kurang mampu melakukan penyesuaian intelektual.
(5) Merasa kurang bersemangat, kurang tegas dan sering ribut di kelas.
(6) Memiliki disiplin yang rendah, sering telat sekolah, enggan mengerjakan tugas, sering ribut, dan mudah terpengaruh.
(7) Tidak memiliki hobi atau minat terhadap kegiatan untuk mengisi waktu luang.
( Takut ujian dan berprestasi rendah.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kriteria utama dari underachiever yaitu adanya kesenjangan antara prestasi dengan kemampuan IQ. Prestasi belajar yang diperoleh secara nyata berada di bawah standar minimal yang seharusnya dicapai dengan tingkat IQ tertentu. Selain itu underachiever menunjukan karakter pribadi yang cenderung perfectionis, terlalu sensitif, kurang percaya diri, dan kurang berminat terhadap aktifitas sosial. Underachiever lebih senang melakukan kegiatan sendiri daripada berkelompok. Berkaitan dengan kegiatannya di sekolah, underachiever menunjukan sikap negatif terhadap kegiatan sekolah. Kurang konsentrasi ketika belajar, menghindari pekerjaan sekolah, disiplin rendah, dan kurang berminat dengan kegiatan yang diselenggarakan sekolah merupakan beberapa karakteristik underachiever jika dilihat dari sudut pandang sekolah.
2.3 Faktor-faktor Determinan Penyebab Underachiever
Munculnya underachiever tidak serta merta dengan sendirinya. Ada beberapa faktor yang berpotensi menjadi penyebab underachiever. Berdasarkan kajian teori yang peneliti lakukan, diasumsikan beberapa faktor penyebab underachiever, yaitu kondisi fisik, keadaan psikis, keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat. Faktor-faktor tersebut nantinya menjadi fokus dalam penelitian ini.
2.3.1 Kondisi Fisik
Seperti yang diungkapkan Semiawan (2004) (www.smp.alkausar.org) bahwa ”faktor-faktor penyebab underachiever yang berasal dari sisi fisik misalnya anak mengalami sakit, ada gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau ada cacat fisik”. Hal-hal tersebut sangat mungkin menganggu proses belajar anak sehingga prestasinya tidak bisa menggambarkan kemampuannya.
Meliala (2006) (www.ditplb.or.id) menambahkan bahwa “kondisi fisik yang bisa menyebabkan siswa underachiever misalnya anak mengalami sakit, ada gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau ada cacat fisik lainnya”. Hal-hal tersebut sangat mungkin menganggu proses belajar anak sehingga prestasinya yang diperoleh tidak sesuai dengan potensi yang sebenarnya.
2.3.2 Kondisi Psikis
Selain kondisi fisik, kondisi psikis juga berpeluang menjadi faktor penyebab munculnya underachiever. Beberapa ahli mengungkapkan pendapat mengenai kondisi piskis yang rentan menjadi penyebab underachiever.
Menurut Munandar (2004: 241) ada beberapa kerentanan yang dapat menyebabkan seseorang menjadi underachiever, yaitu:
(1) Perfeksionisme, yaitu dorongan untuk mencapai kesempurnaan.
(2) Supersensitivity, yaitu kepekaan yang berlebih.
(3) Kurang keterampilan sosial.
Hawadi (2004: 73) menyebutkan faktor-faktor kepribadian yang bisa menyebabkan siswa underachiever seperti perfectionism, terlalu sensitif, tidak berdaya guna dalam keterampilan sosial, malu dan rendah diri karena berbeda dengan siswa lain, tidak percaya diri, dan terlalu banyak kegiatan.
Clark (1992: 472) juga menyebutkan kondisi pribadi anak yang berpotensi menyebabkan underachiever, yaitu sebagai berikut:
(1) Adanya tekanan dalam diri sendiri untuk mencapai kesempurnaan.
(2) Memiliki sensitivitas yang tinggi.
(3) Kurangnya kemampuan sosial.
(4) Merasa tertekan karena dianggap berbeda dengan anak lain, sehingga dikucilkan.
(5) Merasa tidak cocok dengan kurikulum sekolah.
(6) Kurang sesuai dengan cara mengajar guru.
(7) Kurang nyaman dengan lingkungan kelas.
( Terlalu banyak minat terhadap sesuatu, sehingga sulit fokus.
(9) Terlalu banyak kegiatan sehingga tidak bisa memanajemen kegiatannya sendiri.
2.3.3 Keluarga
Berdasarkan beberapa literatur diketahui bahwa orang tua ternyata berpeluang menjadi faktor penyebab underachiever. Berikut ini pendapat para ahli yang menyatakan bahwa keluarga sebagai salah satu penyebab underachiever.
Hawadi (2004: 71) menyatakan bahwa ada beberapa faktor dari keluarga yang berpotensi menyebabkan siswa underachiever, yaitu:
(1) Belajar dan prestasi tidak mendapat penghargaan.
(2) Tidak ada sikap positif orang tua terhadap karier anak.
(3) Orang tua terlalu dominan dalam belajar anak.
(4) Prestasi anak menjadi ancaman kebutuhan superioritas orang tua.
(5) Adanya perebutan kekuasaan dalam keluarga.
(6) Status sosial ekonomi yang rendah.
(7) Keluarga mengalami disfungsi dengan berbagai alasan.
Munandar (2002: 343) menyebutkan bahwa ada beberapa kondisi keluarga yang dapat mengakibatkan anaknya menjadi underachiever diataranya “keluarga dengan moral rendah, keluarga terpecah (perceraian atau kematian), perlindungan berlebih dari orang tua, sikap otoriter, sikap membiarkan atau membolehkan secara berlebih, dan ketidakajegan sikap orang tua”.
Menurut Rimm dalam Sabili (199 (www.gwocities.com) ada beberapa faktor penyebab underachiever yang berasal dari keluarga, yaitu:
(1) Perilaku orang tua yang perfectionist.
(2) Orang tua terlalu meremehkan kemampuan anak
(3) Orang tua kurang perhatian
(4) Orang tua bersikap terlalu permisif
(5) Konflik keluarga yang serius
(6) Orang tua sering mengkritik
(7) Orangtua terlalu melindungi (overprotective)
Berdasarkan penjelasan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab underachiever yang berasal dari keluarga terdiri dari keutuhan keluarga, sikap dan kebiasaan orang tua, dan kondisi sosial ekonomi keluarga.
2.3.4 Sekolah
Selain faktor keluarga ternyata sekolah juga berpeluang menjadi salah satu faktor penyebab underachiever. Siswa menghabiskan sebagian waktunya untuk belajar di sekolah. Oleh sebab itu sekolah berperan dalam menciptakan siswa berprestasi. Akan tetapi pada kenyataannya sekolah juga berpotensi menyebabkan siswanya kurang mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.
Seperti yang diungkapkan oleh Hawadi (2004: 70) bahwa terdapat beberapa faktor sekolah yang menjadi penyebab underachiever, yaitu sebagai berikut:
(1) Lingkungan sekolah tidak mendukung atau memberikan penghargaan terhadap keberhasilan akademik.
(2) Kurikulum tidak cocok dengan siswa.
(3) Lingkungan kelas yang kaku dan otoriter.
(4) Penghargaan tidak dibuat untuk perbedaan individual.
(5) Gaya belajar siswa yang tidak cocok dengan cara mengajar guru.
Selain itu Clark (1992: 475) juga menyebutkan beberapa kondisi lingkungan sekolah yang menjadi salah satu faktor penyebab munculnya underachiever, yaitu sebagai berikut:
(1) Tidak adanya pengelompokan khusus bagi anak biasa dan anak berbakat tetapi cenderung dicampur dalam satu kelas.
(2) Lingkungan sosial sekolah yang tidak mendukung terpenuhinya kebutuhan anak berbakat.
(3) Lingkungan kelas yang kaku.
(4) Prestasi akademik siswa kurang mendapat perhatian sekolah.
(5) Lingkungan kelas yang terlalu menunjukan kompetisi bagi siswanya dan terlalu kritis.
2.3.5 Teman Sebaya
Teman sebaya siswa berbakat ternyata juga berpotensi menyebabkan underachiever. Menurut Runikasari (200 (www.lptui.com) “salah pilih teman juga bisa menyebabkan seorang remaja menjadi underachiever”. Pada usia remaja, teman menjadi segalanya bagi mereka, sehingga sangat sulit menolak pengaruh dari teman. Ketika berteman dengan anak-anak yang kurang memperhatikan prestasi, maka akan membuat siswa juga malas belajar. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya ketakutan ditinggalkan teman, sehingga mereka lebih baik mengalahkan prestasi belajar daripada pertemanannya.
Berdasarkan penjelasan para ahli dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab underachiever yang berasal teman sebaya terdiri dari:
(1) Keberadaan teman sebaya yang memiliki kesamaan minat dan bakat untuk mengembangkan kemampuan intelektualnya.
(2) Keterlibatan dalam kegiatan yang dilaksanakan bersama kelompok sebaya.
2.3.6 Masyarakat
Menurut Hawadi (2004: 72) lingkungan sekitar tempat tinggal siswa berbakat juga berpotensi menjadi salah satu penyebab underachiever. Adanya harapan dari lingkungan sekitar yang menuntut anak berbakat harus memiliki prestasi yang baik dalam segala bidang, terkadang membuat anak justru merasa terbebani. Akibatnya anak berbakat yang seharusnya mampu menunjukan prestasi tinggi sesuai dengan tingkat kecerdasan, justru menunjukan hal yang sebaliknya. Prestasi belajar yang diperoleh bertolak belakang dengan tingkat kecerdasannya yang tinggi, dan hal ini dikenal dengan underachievement.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab siswa underachiever terdiri dari:
(1) Kondisi Fisik
Kondisi fisik yang rentan menjadi penyebab underachiever yaitu:
(a) Gangguan kesehatan, meliputi gangguan alat indera; adanya penyakit; dan kurang terpenuhinya nutrisi makanan.
(b) Keadaan cacat tubuh.
(2) Kondisi psikis
Kondisi psikis yang rentan menjadi penyebab underachiever yaitu:
(a) Kurangnya motivasi belajar dan berprestasi.
(b) Dorongan menjadi manusia sempurna (perfectionis).
(c) Memiliki sensitivitas yang tinggi.
(d) Kurang memiliki keterampilan sosial.
(e) Kurangnya kemampuan manajemen diri dalam belajar.
(3) Keluarga
Lingkungan keluarga yang berpotensi menjadi penyebab munculnya underachiever diantaranya:
(a) Keutuhan keluarga yang mencakup keharmonisan dalam hubungan antara anggota keluarga .
(b) Sikap dan kebiasaan orang tua terhadap kegiatan belajar anaknya.
(c) Kondisi sosial ekonomi keluarga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari termasuk pendidikan anak.
(4) Sekolah
Faktor penyebab underachiever yang berasal dari sekolah terdiri atas:
(a) Kurikulum sekolah yang di dalamnya mencakup mata pelajaran, waktu belajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian terhadap hasil belajar siswa.
(b) Lingkungan kelas yang di dalamnya mencakup kondisi fisik kelas, jumlah siswa dalam kelas, dan interaksi dalam kelas.
(c) Sikap guru dalam berinterkasi dengan siswa.
(5) Teman Sebaya
Pengaruh teman sebaya terhadap munculnya underachiever bisa dilihat dari aspek berikut ini:
(a) Keberadaan teman sebaya untuk dijadikan teman tukar pikir dalam mengembangkan minat dan bakat akademiknya.
(b) Keterlibatan dalam kegiatan kelompok teman sebaya.
(6) Masyarakat
Faktor penyebab underachiever yang berasal dari yaitu:
a) Stereotipe masyarakat terhadap prestasi, yang mana prestasi belajar di sekolah dianggap sebagai satu-satunya indikator kesuksesan seseorang.
b) Harapan masyarakat terhadap prestasi siswa, yang mana siswa dituntut untuk memperoleh prestasi belajar yang terbaik. Akibatnya siswa justru merasa tertekan, sehingga hasil belajarnya kurang maksimal.